Uji Pembuktian pada padi di lapangan menunjukkan bahwa pada lahan sawah yang masam dan kesuburan rendah dapat mendongkrak tumbuh kembang tanaman dengan performa 2 – 3 kali tanaman normalnya (Kalijati-Subang), pemakaian yang rutin di lahan sawah irigasi yang tua dapat menurunkan pemakaian pupuk kimia sampai 60% dengan diiringi peningkatan produksi padi IR-64 dan Ciheurang (mencapai 8 – 10 ton/ha GKG) dilahan yang sama kontrol petani hanya mendapatkan 4,5 – 5.5 ton/ha. Penerapan Bio P 2000 Z pada padi hibrida Pusaka (umur 90-97 hari) mencapai hasil 9,7 – 10.5 ton/ha (skala petani di Karawang); Padi Hibrida Pusaka 2 hasil mencapai 12 – 14 ton/ha (skala uji coba di Cibitung); Penerapan Bio Teknologi Penyubur ini pada padi PTB (Padi Tipe baru) menunjukkan hasil yang melebihi potensi determinasinya, 10 – 13 ton/ha (dalam penerapan paket bioteknologi Bio P 2000 Z padi unggul di sawah kritis Kalijati-Subang). Keunggulan penerapan teknologi Bio Perforasi pada padi adalah meningkatnya produktivitas dan kualitas beras. Pada padi unggul nasional memacu bertambahnya anakan produktif rata-rata 19 – 35 anakan dan kuatnya perakaran (gambar A), tahan rebah dan serangan penggerek batang; malai lebih besar (berisi) sehingga dibanding tanpa Bio P2000Z pada pengembangan lahan sawah baru tidak berimbang dengan konversi lahan pertanian yang berubah menjadi fungsi lain seperti kpemukiman. Mencetak lahan baru tidaklah murah, memanfaatkan lahan lebak dan pasang surut dipandang sebagai peluang terobosan untuk memacu produksi meskipun disadari bahwa produktivitas di lahan tersebut masih rendah. Sedangkan memacu produktivitas di lahan sawah/irigasi dengan berbagai upaya program revolusi hijau yang telah ada tidak lagi memberikan kontribusi pada peningkatan produktivitas karena telah mencapai titik jenuh (Levelling Off) dan produktivitas yang terjadi justru cenderung menurun.

Sumber: Mikrobagoogle.com